Dedicated
for : Sakha Raihan (nama disamarkan sesuai permintaan)
Senin pagi, aku
berjalan dengan langkah santai memasuki kawasan SMAN 1 Bandung, tempatku
menimba ilmu selama dua tahun terakhir ini. Aku sesekali tersenyum menanggapi
sapaan para teman maupun kakak kelasku. Sampai di kelas, ternyata sudah banyak
temanku di dalam kelas.
“Qa, udah tau belum
kalo hari ini di sekolah kita ada murid baru?” tanya Syifa, salah satu
sahabatku.
“Murid
baru Syif? Anak IPA atau IPS?” tanggapku sambil menaruh tasku di atas meja.
Pembahasan ini cukup menarik, karna sekolahku jarang sekali menerima murid
baru. Mengapa? Karna proses seleksi untuk masuk ke sekolah ini terbilang sulit.
“Anak
IPS sih katanya, cowok lho Qa. Ganteng katanya!” seru Syifa bersemangat. Aku tertawa kecil.
“Ganteng doing gak cukup, pinter baru tuh!” ujarku.
“Feeling gua sih pinter, lu tau kan
gimana susahnya keterima di SMA ini,”
“Iya
sih. By the way, lu tau gak namanya
siapa?”
“Kalau
gak salah sih.. Hmm.. Sak.. Sakha. Iya Sakha”
“Sakha?”
beoku. Syifa mengangguk mantap.
Apa
itu Sakha? Sakha yang dulu jadi cinta monyet─ah
ralat. Sahabatku. Huh. Nama Sakha bukan cuma satu kan Qa? Hh.
*
“Eh
eh!” merasa terpanggil, aku menoleh kearah sumber suara. Saat ini aku sedang
sendiri, tadinya aku berniat membeli roti di kantin untuk sarapan.
“Bisa
tolong kasih tau gue dimana ruang guru gak?” tanya orang itu setelah aku
menoleh.
Aku
termenung. Menatapnya tanpa kedip. KENAPA DIA MIRIP SAKHA?!
“Hei?”
cowok itu melambaikan tangannya di depan wajahku, membuatku tersadar.
“Kok..
Lo mirip Faiqa deh?” tanyanya.
“Gua
emang Faiqa,” balasku.
“LO
FAIQA FADHILAH?!” tanyanya lagi. Aku mengangguk mantap.
“Lo
Sakha? Sakha Raihan?”
“Iya!
Ini gue Sakha, Qa. Temen kecil lo,” Sakha tersenyum sumringah. “Astaga Qa! Gua
gak nyangka bakal ketemu lo lagi!” lanjutnya.
“Sama
Kha! Gua juga gak nyangka,” balasku lalu disahuti anggukannya.
“Lo
apa kabar?”
“Baik
Kha. Lo gimana?” aku balik bertanya.
“Seperti
yang lo liat saat ini,”
Kami
berbincang panjang lebar, sampai akhirnya bel masuk membuat kita harus berpisah
karna Sakha akan memasuki kelas barunya.
Ah Sakha, aku sangat merindukan dia. Sahabat
kecilku. Dulu aku dengannya satu kelas, dulu kami sering menjadi bahan ejekan
teman-teman. Entah itu dengan kata ciee
khas anak SD ataupun lainnya.
Terakhir
aku bertemu dengannya, pada saat kami kelas 6 SD. Saat itu, Sakha bilang kalau
dia harus pindah ke Jakarta. Tentunya aku sedih, aku kehilangan kontak
dengannya sampai saat ini. Dan akhirnya kini aku bertemu dengannya. Entah
kebetulan atau─ memang takdir.
*
Bel
pulang berbunyi, dan seperti biasa, aku akan pulang dengan Farrel─pacarku.
Namun akhir-akhir ini, aku sering bertengkar dengannya. Aku tak mengerti
mengapa Farrel begitu kasar terhadapku. Jujur, aku sudah lelah dengan sikapnya
saat ini.
“Faiqa!”
sapa Sakha yang kebetulan melihatku, dia menghampiri kami yang sedang jalan
berdua.
“Hei
Kha,” sahutku.
“Cie
siapa tuh sebelah, Qa?” goda Sakha. Aku terkekeh, sedangkan Farrel hanya diam
menatap Sakha tajam.
“Lo
murid baru kan?” tanya Farrel tanpa sempat aku menjawab pertanyaan Sakha.
“Iya.
Gue Sakha,” ujar Sakha memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya kearah
Farrel.
“Gue
Farrel, cowoknya Faiqa.” Farrel menjabat tangan Sakha sekaligus memperkenalkan
dirinya.
“Gila.
Kalah start gua!” gerutu Sakha dalam hati.
“Gue
sahabat kecilnya Faiqa hehe. Ya udah gue mau pulang nih, bye Rel, Qa!” pamit
Sakha lalu berlalu pergi.
Sikap
posesif Farrel yang tak aku suka. Padahal tadi hanya Sakha. Aku yakin, Farrel
pasti marah denganku.
“Dia siapa Qa?” tanya Farrel. Benarkan dugaanku, dari nada bicaranya dia memang marah.
“Sahabat
kecil aku Rel, kan tadi dia udah bilang..” jelasku menatapnya.
“Sahabat
kecil lalu jadi cinta. Hahaha,” balasnya lalu jalan mendahuluiku.
“Rel..
Please, dia sahabat aku doang,” mohonku sambil berusaha menyusul langkahnya.
Dia tidak menggubis ucapanku, dia malah menaiki motornya.
“Naik!”
titahnya. Mau tak mau aku menuruti ucapannya, takut nanti ia akan tambah marah.
*
Aku
menyesap green tea latte ini sambil menenangkan fikiranku, dan menatap
sekeliling café dengan ekspreksi
datar. Aku masih tak habis fikir dengan Farrel, hanya karna Sakha tadi
menyapaku, sampai semarah itu Farrel kepadaku. Ahh sudahlah, aku sebenarnya
sudah jengah dengan sikap Farrel. Tak lama, mataku menatap seseorang yang
sangat familiar di indra penglihatanku. Dia Farrel dengan… seorang perempuan.
Aku memperhatikan mereka dari tempat
dudukku.
Farrel
sama cewek? Siapa dia? Aku memutuskan untuk menghampiri Farrel.
“Rel?”
sapaku. Aku tak mau asal menuduh terlebih dahulu. Farrel menatapku kaget.
“Qa?
Kamu kok disini?” balasnya berusaha tersenyum. Cih, tadi dia sedang marah
padaku.
“Hehe
iya, aku suntuk jadi kesini. Oh ya, itu siapa?”
“Kenalin
gue Alexa, ceweknya Farrel. Lo siapa?” cewek yang bernama Alexa tadi mengulurkan
tangan sambil tersenyum padaku.
Apa?!
Ceweknya…Farrel?!
“Oh
lo ceweknya Farrel, gue Faiqa temennya dia. Salam kenal ya!” balasku lalu
menjabat tangannya. Mataku lalu beralih menatap Farrel.
“Makasih
ya Rel, sekarang aku tau apa sebabnya kamu berubah akhir-akhir ini. Kita sampai
disini aja, sekali lagi makasih..” ucapku tanpa mau marah padanya. Toh apa
gunanya juga aku marah padanya? Semua sudah terjadi.
“Qa..
Ini gak─”
“Shut
up, tanpa perlu lo jelasin panjang lebar gue udah ngerti. Bahagia sama Alexa.
Gue cabut dulu ya, bye Lex! See you later,” aku memotong ucapan Farrel, aku sudah
tak ingin mendengar apapun lagi penjelasan Farrel. Sebelum pergi aku sempat
tersenyum pada Alexa yang tengah memandang kami─ aku dan Farrel bingung.
Bahkan
rasanya aku tak ingin menangis sedikitpun. Bukan karna aku tak kecewa, tapi
karna aku sudah muak.
Ya..
Selamat tinggal Farrel!
*
Pagi
ini aku bertemu dengan Sakha di gerbang sekolah, lalu akhirnya jalan bersama ke
dalam sekolah.
“Eh
Kha, sorry ya kemaren Farrel gitu ke lo,” ujarku meminta maaf. Sakha tertawa
kecil.
“Haha
gak apa Qa, wajarlah dia cemburu. Dia kan cowok lo,” balasnya tersenyum. Sangat
mempesona.
“Dia
bukan cowok gue lagi, Kha..” ungkapku
dengan nada datar. Ia menatapku kaget.
“Loh…
kok?” herannya.
“Lo
add line gue aja deh, id-nya Faiqa09. Nanti gue sekalian mau curhat sama lo gue
kasih tau,”
“Gue
masuk kelas duluan ya, Kha..” pamitku lalu memasuki kelasku
“Oke
Qa hehe,”
Aku menaruh tasku lalu membuka handphone-ku.
Tak lama, ada notifikasi line masuk, dari Sakha ternyata.
Sakha Raihan : add back gue Qa
Faiqa Fadhilah : udah maz.
Sakha Raihan : lo kenapa sama siapa
itu cowok lo?
Faiqa Fadhilah : putus Kha
Sakha Raihan : hah?! Kok bisa?
Faiqa Fadhilah : bisalah
Sakha Raihan : certain coba Qaaa!
Faiqa Fadhilah : nanti pulang
sekolah aja gue certain gimana? Gak enak kalo lewat chat
Sakha Raihan : yaudah nanti lo
pulang sama gue ya!
Faiqa Fadhilah : iya, yaudah udah
ada guru masuk ke kelas gue. Bye Kha
Sakha Raihan : bye, Qa..
Sepulang
sekolah, Sakha sudah menungguku di depan kelasku. Aku segera menghampirinya,
namun tak lama, ada Farrel yang juga menghampiriku dan Sakha.
“Qa,
please kamu dengerin aku dulu..” ujar Farrel memohon sambil menarik lenganku.
Aku melepaskan genggamannya di lenganku.
“Udah
jelas kok Rel, gue ngerti lo bosen sama gue dan akhirnya milih sama Alexa. Gue
gapapa kok, lo sama dia aja ya..” aku menatap Farrel sambil tersenyum.
“Yaudah
gue duluan ya Rel, ada urusan sama Sakha,” pamitku, Farrel hanya mendengus. Gue kalah kali ini, gerutu Farrel dalam
hati.
*
“Jadi
gitu ceritanya Kha..” aku menutup cerita sambil menghapus air mataku. Akhirnya
aku menangis juga. Sakha menatapku kasihan.
“Udah
gak usah lo pikirin lagi, dia brengsek Qa. Lupain aja,” ujar Sakha lalu ikut
menghapus air mata di pipiku.
“Cowok
kayak Farrel gak pantes lo tangisin,” lanjut Sakha menatapku dalam. Jujur, aku
sangat merindukan Sakha. Saat ini aku seperti sedang mengulang moment
bersamanya dulu, namun dulu aku menangis karna sebuah mainan, bukan seorang
laki-laki..
“Iya,
gue mau move on Kha. Gue mau lupain Farrel,” ujarku mantap. Sakha tersenyum.
“Bagus!
Kalo lo mau, gue bisa bantuin lo move on kok..”
“Maksud
lo─”
“Eh
jangan salah paham, maksud gue, lo bisa ngelakuin banyak hal yang bisa buat lo
lupa sama Farrel bareng gue gitu. Kebetulan, gue belum punya temen disini
selain lo Qa,” jelas Sakha, aku menatapnya geli.
“Lo
mau gak nemenin gue ke tempat-tempat bagus di Bandung?” lanjut Sakha bertanya.
“Hmm..
Oke gue mau,”
“So,
tujuan pertama kita kemana?”
“Hari ini juga, Kha?!” pekikku.
“Hari ini juga, Kha?!” pekikku.
“Nggaklah,
sekarang udah sore. Besok aja gimana?” tawar Sakha. Aku mengangguk mantap.
*
Dua
bulan berlalu, tak terasa, di mulai dari Sakha yang berniat membantuku untuk
melupakan Farrel dengan mengajaknya jalan-jalan, akhirnya aku sudah melupakan
Farrel. Kini Farrel juga sudah kembali seperti dulu lagi tanpa menggangguku
lagi, aku dengan Farrelpun masih berteman.
Saat
ini, aku sedang berada di The Green
Forest Resort di daerah Cihideung, Bandung bersama Sakha.Pemandangan disini
sangat indah, apalagi aku menikmati pemandangan itu bersama Sakha.
“Foto
berdua sini Qa,” Sakha menarik tanganku agar lebih dekat dengannya, sedangkan
tangan yang satunya terulur memegang tongkat gopro.
“Say
chees!” seru Sakha. Kami berfoto dengan berbagai macam pose. Setelah puas,
Sakha mengajak aku duduk di sebuah bangku panjang yang tersedia disana.
“Qa..”
panggil Sakha, aku menoleh menatapnya.
“Ya Kha?” sahutku.
“Ya Kha?” sahutku.
“Ada
yang mau gue omongin,” Sakha lalu mengubah duduknya menghadapku.
“Tinggal
ngomong Kha..” balasku, ikut duduk menghadap Sakha.
“Gue
udah kenal sama lo dari kecil kan, dan waktu kita kecil juga banyak yang
ngeledekin kita soal pacaran gitu. Sayangnya gue pas itu harus pindah dan
akhirnya kita pisah. Sebenernya gue bener-bener gak nyangka bakal ketemu lagi
sama lo, ya walaupun sama-sama satu daerah yaitu di Bandung, tapi Bandung luas,
jadi sewaktu gue pindah lagi ke Bandung, gue gak berharap banget bisa ketemu
sama lo lagi.” Sakha menghela nafas, aku masih setia mendengarkannya.
“Jujur
gue seneng banget bisa ketemu lagi sama lo, bisa liat lo lagi. Tapi satu hal
yang buat gue kecewa, yaitu pas gue tau kalau lo udah punya pacar. Gue kecewa,
banget. Dan setelah denger lo putus dari pacar lo, gue gak mau nyia-nyiain
kesempatan itu gitu aja kan. Oke, gue to the point. Gue sayang sama lo Qa, gue
cinta sama lo. Lo mau.. jadi pacar gue?” ungkap Sakha. Aku mengangguk pelan.
“Gue
juga rasa apa yang lo rasa, Kha..” balasku.
Dan
inilah akhirnya, Tuhan telah mempersiapkan yang lebih indah dari sebelumnya.Dia, Sakha, sahabat kecilku. Aku harap, Sakha tidak seperti Farrel..
TAMAT
Yeay
tamat. Oke ini absurd karna ide ngestuck dan alurnya ini kecepetan-_-
Dah
ah Kha, lu gausah galaw lagi lu ke gua. Cerpen permintaan lu kelar. Oke. Bhay!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar