Kamis, 31 Desember 2015

Dia, Sahabat Kecilku

Dedicated for : Sakha Raihan (nama disamarkan sesuai permintaan)
              
Senin pagi, aku berjalan dengan langkah santai memasuki kawasan SMAN 1 Bandung, tempatku menimba ilmu selama dua tahun terakhir ini. Aku sesekali tersenyum menanggapi sapaan para teman maupun kakak kelasku. Sampai di kelas, ternyata sudah banyak temanku di dalam kelas.

“Qa, udah tau belum kalo hari ini di sekolah kita ada murid baru?” tanya Syifa, salah satu sahabatku.
“Murid baru Syif? Anak IPA atau IPS?” tanggapku sambil menaruh tasku di atas meja. Pembahasan ini cukup menarik, karna sekolahku jarang sekali menerima murid baru. Mengapa? Karna proses seleksi untuk masuk ke sekolah ini terbilang sulit.
“Anak IPS sih katanya, cowok lho Qa. Ganteng katanya!”  seru Syifa bersemangat. Aku tertawa kecil. “Ganteng doing gak cukup, pinter baru tuh!” ujarku.
Feeling gua sih pinter, lu tau kan gimana susahnya keterima di SMA ini,”
“Iya sih. By the way, lu tau gak namanya siapa?”
“Kalau gak salah sih.. Hmm.. Sak.. Sakha. Iya Sakha”
“Sakha?” beoku. Syifa mengangguk mantap.
Apa itu Sakha? Sakha yang dulu jadi cinta monyetah ralat. Sahabatku. Huh. Nama Sakha bukan cuma satu kan Qa? Hh.

*

“Eh eh!” merasa terpanggil, aku menoleh kearah sumber suara. Saat ini aku sedang sendiri, tadinya aku berniat membeli roti di kantin untuk sarapan.
“Bisa tolong kasih tau gue dimana ruang guru gak?” tanya orang itu setelah aku menoleh.
Aku termenung. Menatapnya tanpa kedip. KENAPA DIA MIRIP SAKHA?!
“Hei?” cowok itu melambaikan tangannya di depan wajahku, membuatku tersadar.
“Kok.. Lo mirip Faiqa deh?” tanyanya.
“Gua emang Faiqa,” balasku.
“LO FAIQA FADHILAH?!” tanyanya lagi. Aku mengangguk mantap.
“Lo Sakha? Sakha Raihan?”
“Iya! Ini gue Sakha, Qa. Temen kecil lo,” Sakha tersenyum sumringah. “Astaga Qa! Gua gak nyangka bakal ketemu lo lagi!” lanjutnya.
“Sama Kha! Gua juga gak nyangka,” balasku lalu disahuti anggukannya.
“Lo apa kabar?”
“Baik Kha. Lo gimana?” aku balik bertanya.
“Seperti yang lo liat saat ini,”
Kami berbincang panjang lebar, sampai akhirnya bel masuk membuat kita harus berpisah karna Sakha akan memasuki kelas barunya.
 Ah Sakha, aku sangat merindukan dia. Sahabat kecilku. Dulu aku dengannya satu kelas, dulu kami sering menjadi bahan ejekan teman-teman. Entah itu dengan kata ciee khas anak SD ataupun lainnya.
Terakhir aku bertemu dengannya, pada saat kami kelas 6 SD. Saat itu, Sakha bilang kalau dia harus pindah ke Jakarta. Tentunya aku sedih, aku kehilangan kontak dengannya sampai saat ini. Dan akhirnya kini aku bertemu dengannya. Entah kebetulan atau─ memang takdir.

*

Bel pulang berbunyi, dan seperti biasa, aku akan pulang dengan Farrel─pacarku. Namun akhir-akhir ini, aku sering bertengkar dengannya. Aku tak mengerti mengapa Farrel begitu kasar terhadapku. Jujur, aku sudah lelah dengan sikapnya saat ini.
“Faiqa!” sapa Sakha yang kebetulan melihatku, dia menghampiri kami yang sedang jalan berdua.
“Hei Kha,” sahutku.
“Cie siapa tuh sebelah, Qa?” goda Sakha. Aku terkekeh, sedangkan Farrel hanya diam menatap Sakha tajam.
“Lo murid baru kan?” tanya Farrel tanpa sempat aku menjawab pertanyaan Sakha.
“Iya. Gue Sakha,” ujar Sakha memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya kearah Farrel.
“Gue Farrel, cowoknya Faiqa.” Farrel menjabat tangan Sakha sekaligus memperkenalkan dirinya.
“Gila. Kalah start gua!” gerutu Sakha dalam hati.
“Gue sahabat kecilnya Faiqa hehe. Ya udah gue mau pulang nih, bye Rel, Qa!” pamit Sakha lalu berlalu pergi.
Sikap posesif Farrel yang tak aku suka. Padahal tadi hanya Sakha. Aku yakin, Farrel pasti marah denganku.

“Dia siapa Qa?” tanya Farrel. Benarkan dugaanku, dari nada bicaranya dia memang marah.
“Sahabat kecil aku Rel, kan tadi dia udah bilang..” jelasku menatapnya.
“Sahabat kecil lalu jadi cinta. Hahaha,” balasnya lalu jalan mendahuluiku.
“Rel.. Please, dia sahabat aku doang,” mohonku sambil berusaha menyusul langkahnya. Dia tidak menggubis ucapanku, dia malah menaiki motornya.
“Naik!” titahnya. Mau tak mau aku menuruti ucapannya, takut nanti ia akan tambah marah.

*

Aku menyesap green tea latte ini sambil menenangkan fikiranku, dan menatap sekeliling café dengan ekspreksi datar. Aku masih tak habis fikir dengan Farrel, hanya karna Sakha tadi menyapaku, sampai semarah itu Farrel kepadaku. Ahh sudahlah, aku sebenarnya sudah jengah dengan sikap Farrel. Tak lama, mataku menatap seseorang yang sangat familiar di indra penglihatanku. Dia Farrel dengan… seorang perempuan. Aku  memperhatikan mereka dari tempat dudukku.
Farrel sama cewek? Siapa dia? Aku memutuskan untuk menghampiri Farrel.

“Rel?” sapaku. Aku tak mau asal menuduh terlebih dahulu. Farrel menatapku kaget.
“Qa? Kamu kok disini?” balasnya berusaha tersenyum. Cih, tadi dia sedang marah padaku.
“Hehe iya, aku suntuk jadi kesini. Oh ya, itu siapa?”
“Kenalin gue Alexa, ceweknya Farrel. Lo siapa?” cewek yang bernama Alexa tadi mengulurkan tangan sambil tersenyum padaku.
Apa?! Ceweknya…Farrel?!
“Oh lo ceweknya Farrel, gue Faiqa temennya dia. Salam kenal ya!” balasku lalu menjabat tangannya. Mataku lalu beralih menatap Farrel.
“Makasih ya Rel, sekarang aku tau apa sebabnya kamu berubah akhir-akhir ini. Kita sampai disini aja, sekali lagi makasih..” ucapku tanpa mau marah padanya. Toh apa gunanya juga aku marah padanya? Semua sudah terjadi.
“Qa.. Ini gak─”
“Shut up, tanpa perlu lo jelasin panjang lebar gue udah ngerti. Bahagia sama Alexa. Gue cabut dulu ya, bye Lex! See you later,” aku memotong ucapan Farrel, aku sudah tak ingin mendengar apapun lagi penjelasan Farrel. Sebelum pergi aku sempat tersenyum pada Alexa yang tengah memandang kami─ aku dan Farrel bingung.
Bahkan rasanya aku tak ingin menangis sedikitpun. Bukan karna aku tak kecewa, tapi karna aku sudah muak.
Ya.. Selamat tinggal Farrel!

*

Pagi ini aku bertemu dengan Sakha di gerbang sekolah, lalu akhirnya jalan bersama ke dalam sekolah.

“Eh Kha, sorry ya kemaren Farrel gitu ke lo,” ujarku meminta maaf. Sakha tertawa kecil.
“Haha gak apa Qa, wajarlah dia cemburu. Dia kan cowok lo,” balasnya tersenyum. Sangat mempesona.
“Dia bukan cowok gue lagi, Kha..”  ungkapku dengan nada datar. Ia menatapku kaget.
“Loh… kok?” herannya.
“Lo add line gue aja deh, id-nya Faiqa09. Nanti gue sekalian mau curhat sama lo gue kasih tau,”
“Gue masuk kelas duluan ya, Kha..” pamitku lalu memasuki kelasku
“Oke Qa hehe,”

 Aku menaruh tasku lalu membuka handphone-ku. Tak lama, ada notifikasi line masuk, dari Sakha ternyata.

Sakha Raihan : add back gue Qa
Faiqa Fadhilah : udah maz.
Sakha Raihan : lo kenapa sama siapa itu cowok lo?
Faiqa Fadhilah : putus Kha
Sakha Raihan : hah?! Kok  bisa?
Faiqa Fadhilah : bisalah
Sakha Raihan : certain coba Qaaa!
Faiqa Fadhilah : nanti pulang sekolah aja gue certain gimana? Gak enak kalo lewat chat
Sakha Raihan : yaudah nanti lo pulang sama gue ya!
Faiqa Fadhilah : iya, yaudah udah ada guru masuk ke kelas gue. Bye Kha
Sakha Raihan : bye, Qa..

Sepulang sekolah, Sakha sudah menungguku di depan kelasku. Aku segera menghampirinya, namun tak lama, ada Farrel yang juga menghampiriku dan Sakha.

“Qa, please kamu dengerin aku dulu..” ujar Farrel memohon sambil menarik lenganku. Aku melepaskan genggamannya di lenganku.
“Udah jelas kok Rel, gue ngerti lo bosen sama gue dan akhirnya milih sama Alexa. Gue gapapa kok, lo sama dia aja ya..” aku menatap Farrel sambil tersenyum.
“Yaudah gue duluan ya Rel, ada urusan sama Sakha,” pamitku, Farrel hanya mendengus. Gue kalah kali ini, gerutu Farrel dalam hati.

*

“Jadi gitu ceritanya Kha..” aku menutup cerita sambil menghapus air mataku. Akhirnya aku menangis juga. Sakha menatapku kasihan.
“Udah gak usah lo pikirin lagi, dia brengsek Qa. Lupain aja,” ujar Sakha lalu ikut menghapus air mata di pipiku.
“Cowok kayak Farrel gak pantes lo tangisin,” lanjut Sakha menatapku dalam. Jujur, aku sangat merindukan Sakha. Saat ini aku seperti sedang mengulang moment bersamanya dulu, namun dulu aku menangis karna sebuah mainan, bukan seorang laki-laki..
“Iya, gue mau move on Kha. Gue mau lupain Farrel,” ujarku mantap. Sakha tersenyum.
“Bagus! Kalo lo mau, gue bisa bantuin lo move on kok..”
“Maksud lo─”
“Eh jangan salah paham, maksud gue, lo bisa ngelakuin banyak hal yang bisa buat lo lupa sama Farrel bareng gue gitu. Kebetulan, gue belum punya temen disini selain lo Qa,” jelas Sakha, aku menatapnya geli.
“Lo mau gak nemenin gue ke tempat-tempat bagus di Bandung?” lanjut Sakha bertanya.
“Hmm.. Oke gue mau,”
“So, tujuan pertama kita kemana?”
“Hari ini juga, Kha?!” pekikku.
“Nggaklah, sekarang udah sore. Besok aja gimana?” tawar Sakha. Aku mengangguk mantap.

*

Dua bulan berlalu, tak terasa, di mulai dari Sakha yang berniat membantuku untuk melupakan Farrel dengan mengajaknya jalan-jalan, akhirnya aku sudah melupakan Farrel. Kini Farrel juga sudah kembali seperti dulu lagi tanpa menggangguku lagi, aku dengan Farrelpun masih berteman.
Saat ini, aku sedang berada di The Green Forest Resort di daerah Cihideung, Bandung bersama Sakha.Pemandangan disini sangat indah, apalagi aku menikmati pemandangan itu bersama Sakha.

“Foto berdua sini Qa,” Sakha menarik tanganku agar lebih dekat dengannya, sedangkan tangan yang satunya terulur memegang tongkat gopro.
“Say chees!” seru Sakha. Kami berfoto dengan berbagai macam pose. Setelah puas, Sakha mengajak aku duduk di sebuah bangku panjang yang tersedia disana.

“Qa..” panggil Sakha, aku menoleh menatapnya.
“Ya Kha?” sahutku.
“Ada yang mau gue omongin,” Sakha lalu mengubah duduknya menghadapku.
“Tinggal ngomong Kha..” balasku, ikut duduk menghadap Sakha.
“Gue udah kenal sama lo dari kecil kan, dan waktu kita kecil juga banyak yang ngeledekin kita soal pacaran gitu. Sayangnya gue pas itu harus pindah dan akhirnya kita pisah. Sebenernya gue bener-bener gak nyangka bakal ketemu lagi sama lo, ya walaupun sama-sama satu daerah yaitu di Bandung, tapi Bandung luas, jadi sewaktu gue pindah lagi ke Bandung, gue gak berharap banget bisa ketemu sama lo lagi.” Sakha menghela nafas, aku masih setia mendengarkannya.
“Jujur gue seneng banget bisa ketemu lagi sama lo, bisa liat lo lagi. Tapi satu hal yang buat gue kecewa, yaitu pas gue tau kalau lo udah punya pacar. Gue kecewa, banget. Dan setelah denger lo putus dari pacar lo, gue gak mau nyia-nyiain kesempatan itu gitu aja kan. Oke, gue to the point. Gue sayang sama lo Qa, gue cinta sama lo. Lo mau.. jadi pacar gue?” ungkap Sakha. Aku mengangguk pelan.
“Gue juga rasa apa yang lo rasa, Kha..” balasku.

Dan inilah akhirnya, Tuhan telah mempersiapkan yang lebih indah dari sebelumnya.Dia, Sakha, sahabat kecilku. Aku harap, Sakha tidak seperti Farrel..

TAMAT

Yeay tamat. Oke ini absurd karna ide ngestuck dan alurnya ini kecepetan-_-

Dah ah Kha, lu gausah galaw lagi lu ke gua. Cerpen permintaan lu kelar. Oke. Bhay!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar