Sabtu, 26 Desember 2015

Baketball-o-logy

Dedicated for : Annisa Agustiani Putri

Aku menatap ring basket di hadapanku. Mencoba mencari jarak yang pas untuk men-shoot bola berwarna orange yang sedang aku dribble ini, bola basket.
                          
Duk duk duk..
HAPP!
 
Tiba-tiba, ada seseorang yang merebut bola basket yang tengah aku dribble tadi.
“Main bareng?” ujar –si perebut- bola basket itu. Aku hanya menatapnya kesal, lalu menghela nafas sebentar.

“Gue Alkio Briliantara, panggil aja Kio,” si perebut bola itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan denganku. Kali ini, aku menatapnya innocent.

“Keira Farensa, Kei aja,” akhirnya, aku menjabat tangannya lalu menyebutkan namaku. Dia tersenyum lebar, bagaikan seorang  joker. Lalu, dia mulai mendribble bola basketku lagi. Pftt, cowok ini, sangat menyebalkan.. “Bola basket gue, Kiooo..” aku mengejar dia, lalu merebut bolaku.

“Kayaknya gue baru liat lo main basket disini deh,” Kio menatapku yang tengah mencoba men-shoot bola itu. Shit, gagal masuk ring. Kio membuyarkan konsentrasiku.

“Gue murid baru disini..”  Aku menatapnya serius kali ini, dia memungut bolaku yang berada di bawah ring itu.

“Oh pantes, kelas berapa?”  Kio kembali mendribble bolaku, lalu dengan mudahnya menshoot bola itu ke arah ring. Masuk! Bola itu masuk tepat sasaran hanya dengan satu tangan Kio.

“10-1,” jawabku buru-buru mengalihkan pandanganku bukan ke arah ring tadi.

"Adek kelas toh, baru masuk kapan?”

“Lo kelas berapa emang? Baru hari ini, gue males di rumah. Makanya gue main basket dulu,” Balasku sekenanya. Aku berjalan ke pinggir lapangan karna cuaca hari ini cukup terik.

“Gue kelas 12. Lo mau ikut ekskul basket disini nggak?” Dia mengikuti langkahku, mataku berbinar mendengar tawaran darinya.

“Eh, sorry gak manggil ‘kak’ tadi. Serius gue boleh ikut nih?” Kio menatapku lucu.

“Yaelah gapapa, santai aja Kei. Ya bolehlah, ekskul kan bebas Kei. Murid sini pasti boleh ikutlah..” Aku tersenyum sumringah.

“Gue mau ikut kak! Daftar ke siapa nih?” Kio tersenyum. Ah dia tampan sebenarnya, hanya saja awal perkenalanku dengannya tadi menyebalkan.

“Yaudah besok pulang sekolah, lo ikut kita latihan disini ya,” ujarnya sambil memberikan bola basket itu kepadaku. Aku mengangguk senang. Basket favoritku, sejak lama.

“Gue duluan ya Kei, besok jangan lupa.” Kio berlalu meninggalkanku sendiri, masih mematung sambil memegang bola basketku. “Thanks kak!” ujarku setengah berteriak karna Kio sudah mulai menjauh, ia hanya membalikkan badan lalu mengangkat jempolnya sambil tersenyum.

“Meleleh gue liat senyumnya..” gumamku pelan.
 
*
 
Aku mengedarkan pandanganku ke lapangan basket yang cukup luas ini, mataku menangkap Kio sedang menaruh tasnya di pinggir lapangan, ia sudah memakai kaus berwarna merah. Aku berjalan menghampirinya.

“Kak? Inget gue kan?” tanyaku ketika sampai di hadapannya.

“Ingetlah dek, ayo kita pemanasan dulu sama yang lain. Sekalian gue kenalin sama semua yang disini,” aku mengangguk lalu menaruh tasku di sebelah tasnya dan mengikuti Kio.
 
Kio mendekat kearah gerombolan anak basket disini.

“Guys, perhatian,” semua yang disana menatap Kio.

“Kita kedatangan anak baru nih. Kei, kenalin diri lo..” titah Kio menatapku dan mengangguk pelan.

“Halo, gue Keira Farisa, panggil aja Kei. Gue dari kelas 10-1, murid baru juga di sekolah ini. Salam kenal semua..” ujarku ramah dengan senyum. Semua ikut tersenyum.

“Salam kenal Kei. Gue Putra, ketua team basket disini. Selamat bergabung, semoga lo betah,” Putra –ketua team basket- disini tersenyum menanggapiku.

“Aamiin, ajarin gue yaa kak. Gue masih butuh banyak ilmu disini hehe,” aku tertawa kecil.

“Iyaa Kei, disini sama-sama belajar kok..” Kio kini yang menyahut. Aku tersenyum kecil.

“Nah bener tuh kata Kio. Oh ya, lo belum dapet junior yang mau di bimbing kan Ki?” kata Putra melirik Kio, Kio mengangguk.

“Gue bimbing Kei aja yaa, San..” pinta Kio, Putra hanya berdehem lalu menepuk bahuku.

“Awas, hati-hati sama Kio yaa dek..” Putra berbisik lalu tertawa, Kio memelototi Putra yang berlari menjauhi mereka.

“Gue gak bakal gigit lo kok, Kei,” Kio berujar pelan, matanya menatap mataku serius.

“Palingan di cium sama Kio!” seru anak lain yang disamping Kio.

“Sialan lu!”

“Udah yuk pemanasan..” Putra berseru agar semua berkumpul.
 
Selesai pemanasan, aku diajak Kio mendribbling basket, Kio hanya memperhatikan bagaimana aku mendribbling, lalu ia membenarkan bila aku salah. Begitu seterusnya sampai berganti materi lain, dari mulai mengoper bola, offence, diffence, hands up, lay up, men-shoot dari jauh, dan lain-lain hingga tak terasa hari sudah sore, latihan hari ini pun cukup sampai disini.

“Pulang sama siapa Kei?” tanya Kio saat kita sampai di parkiran. Aku menggeleng lemas. “Nggak tau, kak. Handphone gue lowbat, mau nelpon nyokap padahal..”

“Mau pake handphone gue? Nih pake aja,” Kio menyodorkan benda persegi panjang berwarna hitam itu kearahku. Aku menatapnya terlebih dahulu.

“Nggakpapa nih kak?” Kio menggeleng cepat lalu tersenyum. Aku menerima handphone Kio lalu mulai mengetik beberapa nomor yang aku hafal.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi..” Berulang kali aku menelpon, jawabannya sama. Aku menggeleng frustasi lalu menyerahkan kembali handphone itu kepada pemiliknya.

“Kenapa?” Tanya Kio agak cemas karna melihat raut wajahku.

“Nomor nyokap gue gak aktif,”

“Rumah lo dimana emang? Gue anter aja yaa?” tawar Kio, aku menggeleng, merasa tak enak.

“Gak usah kak, gue naik angkot aja,” tolakku halus, kali ini Kio yang menggeleng cepat.

“Gak Kei, ini udah maghrib dan jarang ada angkot yang lewat sini kalau udah jam segini. Lo gue anter pulang pokoknya..” Kio menarik tanganku sampai motornya, ia menaiki motornya lalu menyuruhku ikut naik, mau tidak mau aku menaiki motor Kio..
 
*
Sudah hampir sebulan ini, aku dekat dengan Kio. Entah apa yang kurasa, aku selalu nyaman bila dekat dengannya. Namun, aku harus ingat, bahwa aku masih mempunyai Gabriel –kekasih yang berbeda kota- denganku. Aku juga menyayanginya. Tapi.. Ah aku.. Aku mencintai Kio, sepertinya. Perlakuan Kio kepadaku, yang membuatku jatuh hati padanya. Aku benar-benar di perlakukan seperti seorang kekasih olehnya. Entahlah, aku tak tau bagaimana perasaan Kio padaku.
Lalu, banyak murid disini yang menyangka kita berpacaran. Padahal, kenyataannya tidak. Mungkin karna mereka selalu melihat kami berdua seperti sepasang kekasih. AH KIO! Kau membuatku benar-benar jatuh cinta..
 
“Siang Kei,” aku terperanjak kaget mendengar suara Kio yang tiba-tiba ada di sebelahku.

“Eh ngagetin aja sih kak,” aku mengerucutkan bibirku. Kio menarik bibirku pelan.

“AH SAKIT TAU!” aku menjerit lalu melepas tangan Kio yang berada tepat di hidungku yang mancung ini. Jahil. Dia sangat jahil memang.

“AHAHAHA..” Tawa Kio menggelegar bagaikan petir, sialan. “Hidung lo Kei, merah persis badut. Ahahaha,”

“AWW!” Kio menjerit kesakitan kini, ia memegang pinggangnya yang ku cubit. Pasti merah, bahkan biru nanti. Ah tapi siapa perduli? Dia yang memulai.

“Udah impas yaa kak,” aku nyengir lalu tertawa garing. Dia masih meringis.

“Yaudah yuk, lunch sama gue Kei..” Kio merangkul bahuku, menuju motornya.

“Mau kemana ih?” tanyaku agak melepas rangkulannya, banyak pasang mata menatap kami seperti tatapan –iri-

“Ke kafe biasa, gue kangen berduaan sama lo..” balasnya asal, aku mengerucutkan bibirku lagi. Gombal lagi dia.

“Gak usah gitu bibirnya, di cium gue mau emang?” kata Kio memandangku tengil. Aku menatap dia kesal lalu berjalan mendahului dia yang sudah menaiki motor kesayangannya.

“Yah ngambek deh, naik ayo Keira..” bujuk Kio menarik tanganku untuk naik ke atas motornya. Kapan sih lo gak narik-narik tangan gue, Ki? Hobi banget, ish..
Aku pun menaiki motor Kio, wajahku masih menampakkan bahwa aku sedang kesal.

“Gak usah di tekuk mukanya Kei, sorry deh. Gue kan  bercanda..” Kio menatapku lewat spionnya mungkin. Aku malas menanggapi, hanya berdehem menyahutinya.

Setelah beberapa saat di perjalanan yang kaku –karna kami tidak berbicara lagi setelah itu- tadi, akhirnya kami sampai di kafe favorit kami. Setelah duduk di tempat yang agak sedikit memojok, aku dan Kio memesan minuman saja.

“Gimana sama basketnya Kei? Udah sebulan ini, ada kemajuan gak?” Tanya Kio sambil menatapku yang tengah memainkan handphoneku, membalas chat dari Zora yang menanyakan dimana aku.

“Banyak perubahan Ki, gue seneng ikut eskul itu,” jawabku tersenyum. “Gue juga seneng bisa ngebimbing lo, bisa liatin muak polos lo terus..” ujar Kio menatapku dalam. Astagaa. Aku tak mengerti arti tatapannya.

Tiba-tiba, suara dering handphone Kio berbunyi. Kio berhenti menatapku, ia melihat handphonenya.

“Sebentar yaa Kei,” ujarnya lalu menjauhiku dan mengangkat telponnya. Tak lama, Kio kembali dengan wajah khawatir.

“Kenapa Ki?” aku memandangnya cemas, dia mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.

“Kei, ayo gue anterin lo pulang. Pacar gue, pacar gue kecelakaan..” kata Kio lalu menarik tanganku.

Apa? Pacar? Sejak kapan Kio mempunyai pacar? Air mataku mendesak keluar saat ini juga, ah tak boleh! Aku tak boleh menangis..
 
*
Hari ini latihan basket, tetapi aku belum melihat batang hidung Kio sedari tadi. Kemana dia? Apa dia gak masuk, karna pacarnya kecelakaan? Hah~
Latihan di mulai, aku melihat  Putra tengah beristirahat. Lalu aku berjalan mendekatinya.

“Ehm maaf kak, gue mau nanya. Kak Kio kemana yaa? Kok gue gak liat dia dari tadi,” Putra menatapku.

“Oh iya gue lupa kasih tau lo, Kio hari ini lagi izin. Dia nemenin pacarnya di luar kota yang abis kecelakaan..” ujar Putra santai.

“Pacar kak?” beoku.

“Iyaa pacar. Ah lo belum tau yaa, Kio punya pacar tapi beda daerah sama kita. Ya Long Distance Relationship gitu Kei,”

“Oh gitu, yaudah makasih kak. Gue latihan sendiri kalo gitu..” Aku berbalik menjauhi Putra, air mataku menetes, kini tak dapat aku bendung lagi.
 
*
 
“Keira!” Panggil seseorang, aku hafal suara ini. Ini suara Kio. Jujur, aku merindukannya. Aku merindukan tatapannya, merindukan gombalan basinya, merindukan perhatiannya.

“Kenapa kak?” tanyaku, agak dingin. Aku menatap penampilannya, terlihat acak-acakan.

“Sorry ya gue gak ada kabar selama satu minggu ini, gue nemenin pacar gue yang abis sakit di luar kota.” Terlihat raut penyesalan dalam wajahnya, ah tapi siapa perduli? Aku tak boleh mengaharapkan sesuatu yang sudah jadi milik orang lain. Lagipula, aku juga masih memiliki Gabriel, bukan?

“Nggakpapa kak, lagian kita siapa emang? Hahaha..” tanyaku sarkas, Kio ikut tertawa.

“Lo? Lo partner basket gue, Kei.Lo temen, lo sahabat gue. Hahaha,”

INI SAKIT, KI. SAKIT!

Hatiku menjerit sakit. Tapi, mau bagaimana lagi?  Mungkin, kedekatan kita kemarin atau bahkan seterusnya hanya sebatas  friendzone.
 
Mencintaimu, sama halnya seperti aku  mendribble bola basket ke bumi.
Berkali-kali memantul, menyakitkan mungkin bila aku menjadi –si bola basket-
Aku menyayanginya, namun sangat teramat sakit
Mencintaimu, sama halnya seperti aku menshooting bola basket ke dalam ringnya
Walau bola itu akan masuk ke dalam ring, tapi sia-sia karna ring basket bolong, bukan?
Bila tidak masuk ke dalam ring, akan lebih sakit lagi
Dan sepertinya, dia sudah memasukkan hatiku ke dalam ring basket
Aku mencintainya
Namun sia-sia
 
END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar