Dedicated
for : Annisa Agustiani Putri
Aku menatap ring basket di hadapanku. Mencoba
mencari jarak yang pas untuk men-shoot bola berwarna orange yang sedang aku
dribble ini, bola basket.
Duk
duk duk..
HAPP!
Tiba-tiba, ada seseorang yang merebut bola basket
yang tengah aku dribble tadi.
“Main bareng?” ujar –si perebut- bola basket itu.
Aku hanya menatapnya kesal, lalu menghela nafas sebentar.
“Gue Alkio Briliantara, panggil aja Kio,” si perebut
bola itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan denganku. Kali ini, aku
menatapnya innocent.
“Keira Farensa, Kei aja,” akhirnya, aku menjabat
tangannya lalu menyebutkan namaku. Dia tersenyum lebar, bagaikan seorang joker. Lalu, dia mulai mendribble bola
basketku lagi. Pftt, cowok ini, sangat menyebalkan.. “Bola basket gue, Kiooo..”
aku mengejar dia, lalu merebut bolaku.
“Kayaknya gue baru liat lo main basket disini deh,”
Kio menatapku yang tengah mencoba men-shoot bola itu. Shit, gagal masuk ring.
Kio membuyarkan konsentrasiku.
“Gue murid baru disini..” Aku menatapnya serius kali ini, dia memungut
bolaku yang berada di bawah ring itu.
“Oh pantes, kelas berapa?” Kio kembali mendribble bolaku, lalu dengan
mudahnya menshoot bola itu ke arah ring. Masuk! Bola itu masuk tepat sasaran
hanya dengan satu tangan Kio.
“10-1,” jawabku buru-buru mengalihkan pandanganku
bukan ke arah ring tadi.
"Adek kelas toh, baru masuk kapan?”
“Lo kelas berapa emang? Baru hari ini, gue males di
rumah. Makanya gue main basket dulu,” Balasku sekenanya. Aku berjalan ke
pinggir lapangan karna cuaca hari ini cukup terik.
“Gue kelas 12. Lo mau ikut ekskul basket disini
nggak?” Dia mengikuti langkahku, mataku berbinar mendengar tawaran darinya.
“Eh, sorry gak manggil ‘kak’ tadi. Serius gue boleh
ikut nih?” Kio menatapku lucu.
“Yaelah gapapa, santai aja Kei. Ya bolehlah, ekskul
kan bebas Kei. Murid sini pasti boleh ikutlah..” Aku tersenyum sumringah.
“Gue mau ikut kak! Daftar ke siapa nih?” Kio
tersenyum. Ah dia tampan sebenarnya, hanya saja awal perkenalanku dengannya
tadi menyebalkan.
“Yaudah besok pulang sekolah, lo ikut kita latihan
disini ya,” ujarnya sambil memberikan bola basket itu kepadaku. Aku mengangguk
senang. Basket favoritku, sejak lama.
“Gue duluan ya Kei, besok jangan lupa.” Kio berlalu
meninggalkanku sendiri, masih mematung sambil memegang bola basketku. “Thanks kak!” ujarku setengah berteriak karna Kio
sudah mulai menjauh, ia hanya membalikkan badan lalu mengangkat jempolnya
sambil tersenyum.
“Meleleh gue liat senyumnya..” gumamku pelan.
*
Aku mengedarkan pandanganku ke lapangan basket yang
cukup luas ini, mataku menangkap Kio sedang menaruh tasnya di pinggir lapangan,
ia sudah memakai kaus berwarna merah. Aku berjalan menghampirinya.
“Kak? Inget gue kan?” tanyaku ketika sampai di
hadapannya.
“Ingetlah dek, ayo kita pemanasan dulu sama yang
lain. Sekalian gue kenalin sama semua yang disini,” aku mengangguk lalu menaruh
tasku di sebelah tasnya dan mengikuti Kio.
Kio mendekat kearah gerombolan anak basket disini.
“Guys, perhatian,” semua yang disana menatap Kio.
“Kita kedatangan anak baru nih. Kei, kenalin diri
lo..” titah Kio menatapku dan mengangguk pelan.
“Halo, gue Keira Farisa, panggil aja Kei. Gue dari
kelas 10-1, murid baru juga di sekolah ini. Salam kenal semua..” ujarku ramah
dengan senyum. Semua ikut tersenyum.
“Salam kenal Kei. Gue Putra, ketua team basket
disini. Selamat bergabung, semoga lo betah,” Putra –ketua team basket- disini
tersenyum menanggapiku.
“Aamiin, ajarin gue yaa kak. Gue masih butuh banyak
ilmu disini hehe,” aku tertawa kecil.
“Iyaa Kei, disini sama-sama belajar kok..” Kio kini
yang menyahut. Aku tersenyum kecil.
“Nah bener tuh kata Kio. Oh ya, lo belum dapet
junior yang mau di bimbing kan Ki?” kata Putra melirik Kio, Kio mengangguk.
“Gue bimbing Kei aja yaa, San..” pinta Kio, Putra hanya
berdehem lalu menepuk bahuku.
“Awas, hati-hati sama Kio yaa dek..” Putra berbisik
lalu tertawa, Kio memelototi Putra yang berlari menjauhi mereka.
“Gue gak bakal gigit lo kok, Kei,” Kio berujar
pelan, matanya menatap mataku serius.
“Palingan di cium sama Kio!” seru anak lain yang
disamping Kio.
“Sialan lu!”
“Udah yuk pemanasan..” Putra berseru agar semua
berkumpul.
Selesai pemanasan, aku diajak Kio mendribbling
basket, Kio hanya memperhatikan bagaimana aku mendribbling, lalu ia membenarkan
bila aku salah. Begitu seterusnya sampai berganti materi lain, dari mulai
mengoper bola, offence, diffence, hands up, lay up, men-shoot dari jauh, dan
lain-lain hingga tak terasa hari sudah sore, latihan hari ini pun cukup sampai
disini.
“Pulang sama siapa Kei?” tanya Kio saat kita sampai
di parkiran. Aku menggeleng lemas. “Nggak tau, kak. Handphone gue lowbat, mau nelpon
nyokap padahal..”
“Mau pake handphone gue? Nih pake aja,” Kio
menyodorkan benda persegi panjang berwarna hitam itu kearahku. Aku menatapnya
terlebih dahulu.
“Nggakpapa nih kak?” Kio menggeleng cepat lalu
tersenyum. Aku menerima handphone Kio lalu mulai mengetik beberapa nomor yang
aku hafal.
“Nomor
yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah
beberapa saat lagi..” Berulang kali aku menelpon, jawabannya sama. Aku
menggeleng frustasi lalu menyerahkan kembali handphone itu kepada pemiliknya.
“Kenapa?” Tanya Kio agak cemas karna melihat raut
wajahku.
“Nomor nyokap gue gak aktif,”
“Rumah lo dimana emang? Gue anter aja yaa?” tawar
Kio, aku menggeleng, merasa tak enak.
“Gak usah kak, gue naik angkot aja,” tolakku halus,
kali ini Kio yang menggeleng cepat.
“Gak Kei, ini udah maghrib dan jarang ada angkot
yang lewat sini kalau udah jam segini. Lo gue anter pulang pokoknya..” Kio
menarik tanganku sampai motornya, ia menaiki motornya lalu menyuruhku ikut
naik, mau tidak mau aku menaiki motor Kio..
*
Sudah hampir sebulan ini, aku dekat dengan Kio.
Entah apa yang kurasa, aku selalu nyaman bila dekat dengannya. Namun, aku harus
ingat, bahwa aku masih mempunyai Gabriel –kekasih yang berbeda kota- denganku. Aku
juga menyayanginya. Tapi.. Ah aku.. Aku mencintai Kio, sepertinya. Perlakuan
Kio kepadaku, yang membuatku jatuh hati padanya. Aku benar-benar di perlakukan
seperti seorang kekasih olehnya. Entahlah, aku tak tau bagaimana perasaan Kio
padaku.
Lalu, banyak murid disini yang menyangka kita
berpacaran. Padahal, kenyataannya tidak. Mungkin karna mereka selalu melihat
kami berdua seperti sepasang kekasih.
AH KIO! Kau membuatku benar-benar jatuh cinta..
“Siang Kei,” aku terperanjak kaget mendengar suara
Kio yang tiba-tiba ada di sebelahku.
“Eh ngagetin aja sih kak,” aku mengerucutkan
bibirku. Kio menarik bibirku pelan.
“AH SAKIT TAU!” aku menjerit lalu melepas tangan Kio
yang berada tepat di hidungku yang mancung ini. Jahil. Dia sangat jahil memang.
“AHAHAHA..” Tawa Kio menggelegar bagaikan petir,
sialan. “Hidung lo Kei, merah persis badut. Ahahaha,”
“AWW!” Kio menjerit kesakitan kini, ia memegang
pinggangnya yang ku cubit. Pasti merah, bahkan biru nanti. Ah tapi siapa
perduli? Dia yang memulai.
“Udah impas yaa kak,” aku nyengir lalu
tertawa garing. Dia masih meringis.
“Yaudah yuk, lunch sama gue Kei..” Kio merangkul
bahuku, menuju motornya.
“Mau kemana ih?” tanyaku agak melepas rangkulannya,
banyak pasang mata menatap kami seperti tatapan –iri-
“Ke kafe biasa, gue kangen berduaan sama lo..”
balasnya asal, aku mengerucutkan bibirku lagi. Gombal lagi dia.
“Gak usah gitu bibirnya, di cium gue mau emang?”
kata Kio memandangku tengil. Aku menatap dia kesal lalu berjalan mendahului dia
yang sudah menaiki motor kesayangannya.
“Yah ngambek deh, naik ayo Keira..” bujuk Kio
menarik tanganku untuk naik ke atas motornya. Kapan sih lo gak narik-narik
tangan gue, Ki? Hobi banget, ish..
Aku pun menaiki motor Kio, wajahku masih menampakkan
bahwa aku sedang kesal.
“Gak usah di tekuk mukanya Kei, sorry deh. Gue
kan bercanda..” Kio menatapku lewat
spionnya mungkin. Aku malas menanggapi, hanya berdehem menyahutinya.
Setelah beberapa saat di perjalanan yang kaku –karna
kami tidak berbicara lagi setelah itu- tadi, akhirnya kami sampai di kafe
favorit kami. Setelah duduk di tempat yang agak sedikit memojok, aku dan Kio
memesan minuman saja.
“Gimana sama basketnya Kei? Udah sebulan ini, ada kemajuan
gak?” Tanya Kio sambil menatapku yang tengah memainkan handphoneku, membalas
chat dari Zora yang menanyakan dimana aku.
“Banyak perubahan Ki, gue seneng ikut eskul itu,”
jawabku tersenyum. “Gue juga seneng bisa ngebimbing lo, bisa liatin muak polos lo
terus..” ujar Kio menatapku dalam. Astagaa. Aku tak mengerti arti tatapannya.
Tiba-tiba, suara dering handphone Kio berbunyi. Kio
berhenti menatapku, ia melihat handphonenya.
“Sebentar yaa Kei,” ujarnya lalu menjauhiku dan mengangkat telponnya. Tak lama,
Kio kembali dengan wajah khawatir.
“Kenapa Ki?” aku memandangnya cemas, dia
mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.
“Kei, ayo gue anterin lo pulang. Pacar gue, pacar gue kecelakaan..” kata Kio lalu menarik tanganku.
Apa? Pacar? Sejak kapan Kio mempunyai pacar? Air
mataku mendesak keluar saat ini juga, ah tak boleh! Aku tak boleh menangis..
*
Hari ini latihan basket, tetapi aku belum melihat
batang hidung Kio sedari tadi. Kemana dia? Apa dia gak masuk, karna pacarnya
kecelakaan? Hah~
Latihan di mulai, aku melihat Putra tengah beristirahat. Lalu aku berjalan
mendekatinya.
“Ehm maaf kak, gue mau nanya. Kak Kio kemana yaa?
Kok gue gak liat dia dari tadi,” Putra menatapku.
“Oh iya gue lupa kasih tau lo, Kio hari ini lagi
izin. Dia nemenin pacarnya di luar kota yang abis kecelakaan..” ujar Putra
santai.
“Pacar kak?” beoku.
“Iyaa pacar. Ah lo belum tau yaa, Kio punya pacar
tapi beda daerah sama kita. Ya Long
Distance Relationship gitu Kei,”
“Oh gitu, yaudah makasih kak. Gue latihan sendiri
kalo gitu..” Aku berbalik menjauhi Putra, air mataku menetes, kini tak dapat
aku bendung lagi.
*
“Keira!” Panggil seseorang, aku hafal suara ini. Ini
suara Kio. Jujur, aku merindukannya. Aku merindukan tatapannya, merindukan
gombalan basinya, merindukan perhatiannya.
“Kenapa kak?” tanyaku, agak dingin. Aku menatap
penampilannya, terlihat acak-acakan.
“Sorry ya gue gak ada kabar selama satu minggu ini,
gue nemenin pacar gue yang abis sakit di luar kota.” Terlihat raut penyesalan
dalam wajahnya, ah tapi siapa perduli? Aku tak boleh mengaharapkan sesuatu yang
sudah jadi milik orang lain. Lagipula, aku juga masih memiliki Gabriel, bukan?
“Nggakpapa kak, lagian kita siapa emang? Hahaha..”
tanyaku sarkas, Kio ikut tertawa.
“Lo? Lo partner basket gue, Kei.Lo temen, lo sahabat gue. Hahaha,”
INI SAKIT, KI. SAKIT!
Hatiku menjerit sakit. Tapi, mau bagaimana
lagi? Mungkin, kedekatan kita kemarin
atau bahkan seterusnya hanya sebatas friendzone.
Mencintaimu, sama halnya seperti aku mendribble bola basket ke bumi.
Berkali-kali memantul, menyakitkan mungkin bila aku
menjadi –si bola basket-
Aku menyayanginya, namun sangat teramat sakit
Mencintaimu, sama halnya seperti aku menshooting
bola basket ke dalam ringnya
Walau bola itu akan masuk ke dalam ring, tapi sia-sia karna
ring basket bolong, bukan?
Bila tidak masuk ke dalam ring, akan lebih sakit
lagi
Dan sepertinya, dia sudah memasukkan hatiku ke dalam
ring basket
Aku mencintainya
Namun sia-sia
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar