Kamis, 31 Desember 2015

Happy New Year 2016!

HALLOOOOOOOOO! *tiup terompet*
Gak kerasa, 2015 udah mau berlalu hanya tinggal hitungan jam lagi. Dan blog gue udah mau setahunan nanti tanggal 22 Januari yeayy=D

Btw, ngomong-ngomong 2015 nih gue mau banyak cerita.
2015 itu tahun yang nano-nano buat gue. Kenapa? Di 2015 itu, kedewasaan gue bener-bener di uji.
Dari masalah ini itu ono anu yang gak penting gue kasih tau. Tapi, gue udah move on dari 2015 kok HAHA.
Dapet banyak temen baru sih yang paling gue seneng di 2015 ini, jadi anak SMA dan ngerasain serunya jadi anak SMA. Oke, ini lebay tapi fakta.

SMA ya? SMA seru coy! Lo bakal tau mana tmene yang fake, mana yang bener-bener temen, lo tau rasanya berjuang dapetin peringkat, saingan sama temen-temen lo. Dan pastinya, ngerasain yang namanya pacaran HAHA.
Pacaran, iya pacaran waks. Seru dah.

2015 itu tahun galaunya gue, tahun susah move on nya gue. Parah. Gila. Tiap malem nangis inget mantan. EH ENGGAK! Oke itu lebay, dan bohong.
Galaunya iya, tapi tiap malem nangis ya kagak-_-

2015 tahun dimana gue jauh dari nyokap karna gue harus nerusin SMA di Tangerang ini. Dan dari hal ini, gue belajar dewasa dan mandiri. Hidup jauh dari mama, buat gue ngerti apa arti kebersamaan sama keluarga. Jadi kangen mama, hmm..

2015 tahun dimana gue ngerasa kalo pelajaran di SMA itu gak gampang, mati-matian gue belajar eksponen logaritma dan kawan-kawannya yang bersatu padu dalam sebuah pelajaran yang bernama MATEMATIKA. HOROR KAN? IYA HOROR. EMANG! Satu lagi, FISIKA. Gue gak ngerti cara ngegunain rumus-rumus Gerak Melingkar Beraturan lah, rumus Jatuh Beraturan dan banyak macamnya lagi. Masih mendingan Kimia deh seriusan-_-

Dan ya, gue udah move dari 2015 dan dari seseorang yang gue kenal pas awal 2015 dulu HAHA. Ya udah lah udah berlalu. Semoga di tahun 2016, gue bisa lebih baik dari 2015. Impian dan harapan gue di 2015 yang belum terkabul semoga bisa terwujud di 2016. Aamiin!

Sekian curhatan akhir tahun gue. Atas nama cinta.. Loh salah! Atas nama Windy, Windy mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2016!

Dia, Sahabat Kecilku

Dedicated for : Sakha Raihan (nama disamarkan sesuai permintaan)
              
Senin pagi, aku berjalan dengan langkah santai memasuki kawasan SMAN 1 Bandung, tempatku menimba ilmu selama dua tahun terakhir ini. Aku sesekali tersenyum menanggapi sapaan para teman maupun kakak kelasku. Sampai di kelas, ternyata sudah banyak temanku di dalam kelas.

“Qa, udah tau belum kalo hari ini di sekolah kita ada murid baru?” tanya Syifa, salah satu sahabatku.
“Murid baru Syif? Anak IPA atau IPS?” tanggapku sambil menaruh tasku di atas meja. Pembahasan ini cukup menarik, karna sekolahku jarang sekali menerima murid baru. Mengapa? Karna proses seleksi untuk masuk ke sekolah ini terbilang sulit.
“Anak IPS sih katanya, cowok lho Qa. Ganteng katanya!”  seru Syifa bersemangat. Aku tertawa kecil. “Ganteng doing gak cukup, pinter baru tuh!” ujarku.
Feeling gua sih pinter, lu tau kan gimana susahnya keterima di SMA ini,”
“Iya sih. By the way, lu tau gak namanya siapa?”
“Kalau gak salah sih.. Hmm.. Sak.. Sakha. Iya Sakha”
“Sakha?” beoku. Syifa mengangguk mantap.
Apa itu Sakha? Sakha yang dulu jadi cinta monyetah ralat. Sahabatku. Huh. Nama Sakha bukan cuma satu kan Qa? Hh.

*

“Eh eh!” merasa terpanggil, aku menoleh kearah sumber suara. Saat ini aku sedang sendiri, tadinya aku berniat membeli roti di kantin untuk sarapan.
“Bisa tolong kasih tau gue dimana ruang guru gak?” tanya orang itu setelah aku menoleh.
Aku termenung. Menatapnya tanpa kedip. KENAPA DIA MIRIP SAKHA?!
“Hei?” cowok itu melambaikan tangannya di depan wajahku, membuatku tersadar.
“Kok.. Lo mirip Faiqa deh?” tanyanya.
“Gua emang Faiqa,” balasku.
“LO FAIQA FADHILAH?!” tanyanya lagi. Aku mengangguk mantap.
“Lo Sakha? Sakha Raihan?”
“Iya! Ini gue Sakha, Qa. Temen kecil lo,” Sakha tersenyum sumringah. “Astaga Qa! Gua gak nyangka bakal ketemu lo lagi!” lanjutnya.
“Sama Kha! Gua juga gak nyangka,” balasku lalu disahuti anggukannya.
“Lo apa kabar?”
“Baik Kha. Lo gimana?” aku balik bertanya.
“Seperti yang lo liat saat ini,”
Kami berbincang panjang lebar, sampai akhirnya bel masuk membuat kita harus berpisah karna Sakha akan memasuki kelas barunya.
 Ah Sakha, aku sangat merindukan dia. Sahabat kecilku. Dulu aku dengannya satu kelas, dulu kami sering menjadi bahan ejekan teman-teman. Entah itu dengan kata ciee khas anak SD ataupun lainnya.
Terakhir aku bertemu dengannya, pada saat kami kelas 6 SD. Saat itu, Sakha bilang kalau dia harus pindah ke Jakarta. Tentunya aku sedih, aku kehilangan kontak dengannya sampai saat ini. Dan akhirnya kini aku bertemu dengannya. Entah kebetulan atau─ memang takdir.

*

Bel pulang berbunyi, dan seperti biasa, aku akan pulang dengan Farrel─pacarku. Namun akhir-akhir ini, aku sering bertengkar dengannya. Aku tak mengerti mengapa Farrel begitu kasar terhadapku. Jujur, aku sudah lelah dengan sikapnya saat ini.
“Faiqa!” sapa Sakha yang kebetulan melihatku, dia menghampiri kami yang sedang jalan berdua.
“Hei Kha,” sahutku.
“Cie siapa tuh sebelah, Qa?” goda Sakha. Aku terkekeh, sedangkan Farrel hanya diam menatap Sakha tajam.
“Lo murid baru kan?” tanya Farrel tanpa sempat aku menjawab pertanyaan Sakha.
“Iya. Gue Sakha,” ujar Sakha memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya kearah Farrel.
“Gue Farrel, cowoknya Faiqa.” Farrel menjabat tangan Sakha sekaligus memperkenalkan dirinya.
“Gila. Kalah start gua!” gerutu Sakha dalam hati.
“Gue sahabat kecilnya Faiqa hehe. Ya udah gue mau pulang nih, bye Rel, Qa!” pamit Sakha lalu berlalu pergi.
Sikap posesif Farrel yang tak aku suka. Padahal tadi hanya Sakha. Aku yakin, Farrel pasti marah denganku.

“Dia siapa Qa?” tanya Farrel. Benarkan dugaanku, dari nada bicaranya dia memang marah.
“Sahabat kecil aku Rel, kan tadi dia udah bilang..” jelasku menatapnya.
“Sahabat kecil lalu jadi cinta. Hahaha,” balasnya lalu jalan mendahuluiku.
“Rel.. Please, dia sahabat aku doang,” mohonku sambil berusaha menyusul langkahnya. Dia tidak menggubis ucapanku, dia malah menaiki motornya.
“Naik!” titahnya. Mau tak mau aku menuruti ucapannya, takut nanti ia akan tambah marah.

*

Aku menyesap green tea latte ini sambil menenangkan fikiranku, dan menatap sekeliling cafĂ© dengan ekspreksi datar. Aku masih tak habis fikir dengan Farrel, hanya karna Sakha tadi menyapaku, sampai semarah itu Farrel kepadaku. Ahh sudahlah, aku sebenarnya sudah jengah dengan sikap Farrel. Tak lama, mataku menatap seseorang yang sangat familiar di indra penglihatanku. Dia Farrel dengan… seorang perempuan. Aku  memperhatikan mereka dari tempat dudukku.
Farrel sama cewek? Siapa dia? Aku memutuskan untuk menghampiri Farrel.

“Rel?” sapaku. Aku tak mau asal menuduh terlebih dahulu. Farrel menatapku kaget.
“Qa? Kamu kok disini?” balasnya berusaha tersenyum. Cih, tadi dia sedang marah padaku.
“Hehe iya, aku suntuk jadi kesini. Oh ya, itu siapa?”
“Kenalin gue Alexa, ceweknya Farrel. Lo siapa?” cewek yang bernama Alexa tadi mengulurkan tangan sambil tersenyum padaku.
Apa?! Ceweknya…Farrel?!
“Oh lo ceweknya Farrel, gue Faiqa temennya dia. Salam kenal ya!” balasku lalu menjabat tangannya. Mataku lalu beralih menatap Farrel.
“Makasih ya Rel, sekarang aku tau apa sebabnya kamu berubah akhir-akhir ini. Kita sampai disini aja, sekali lagi makasih..” ucapku tanpa mau marah padanya. Toh apa gunanya juga aku marah padanya? Semua sudah terjadi.
“Qa.. Ini gak─”
“Shut up, tanpa perlu lo jelasin panjang lebar gue udah ngerti. Bahagia sama Alexa. Gue cabut dulu ya, bye Lex! See you later,” aku memotong ucapan Farrel, aku sudah tak ingin mendengar apapun lagi penjelasan Farrel. Sebelum pergi aku sempat tersenyum pada Alexa yang tengah memandang kami─ aku dan Farrel bingung.
Bahkan rasanya aku tak ingin menangis sedikitpun. Bukan karna aku tak kecewa, tapi karna aku sudah muak.
Ya.. Selamat tinggal Farrel!

*

Pagi ini aku bertemu dengan Sakha di gerbang sekolah, lalu akhirnya jalan bersama ke dalam sekolah.

“Eh Kha, sorry ya kemaren Farrel gitu ke lo,” ujarku meminta maaf. Sakha tertawa kecil.
“Haha gak apa Qa, wajarlah dia cemburu. Dia kan cowok lo,” balasnya tersenyum. Sangat mempesona.
“Dia bukan cowok gue lagi, Kha..”  ungkapku dengan nada datar. Ia menatapku kaget.
“Loh… kok?” herannya.
“Lo add line gue aja deh, id-nya Faiqa09. Nanti gue sekalian mau curhat sama lo gue kasih tau,”
“Gue masuk kelas duluan ya, Kha..” pamitku lalu memasuki kelasku
“Oke Qa hehe,”

 Aku menaruh tasku lalu membuka handphone-ku. Tak lama, ada notifikasi line masuk, dari Sakha ternyata.

Sakha Raihan : add back gue Qa
Faiqa Fadhilah : udah maz.
Sakha Raihan : lo kenapa sama siapa itu cowok lo?
Faiqa Fadhilah : putus Kha
Sakha Raihan : hah?! Kok  bisa?
Faiqa Fadhilah : bisalah
Sakha Raihan : certain coba Qaaa!
Faiqa Fadhilah : nanti pulang sekolah aja gue certain gimana? Gak enak kalo lewat chat
Sakha Raihan : yaudah nanti lo pulang sama gue ya!
Faiqa Fadhilah : iya, yaudah udah ada guru masuk ke kelas gue. Bye Kha
Sakha Raihan : bye, Qa..

Sepulang sekolah, Sakha sudah menungguku di depan kelasku. Aku segera menghampirinya, namun tak lama, ada Farrel yang juga menghampiriku dan Sakha.

“Qa, please kamu dengerin aku dulu..” ujar Farrel memohon sambil menarik lenganku. Aku melepaskan genggamannya di lenganku.
“Udah jelas kok Rel, gue ngerti lo bosen sama gue dan akhirnya milih sama Alexa. Gue gapapa kok, lo sama dia aja ya..” aku menatap Farrel sambil tersenyum.
“Yaudah gue duluan ya Rel, ada urusan sama Sakha,” pamitku, Farrel hanya mendengus. Gue kalah kali ini, gerutu Farrel dalam hati.

*

“Jadi gitu ceritanya Kha..” aku menutup cerita sambil menghapus air mataku. Akhirnya aku menangis juga. Sakha menatapku kasihan.
“Udah gak usah lo pikirin lagi, dia brengsek Qa. Lupain aja,” ujar Sakha lalu ikut menghapus air mata di pipiku.
“Cowok kayak Farrel gak pantes lo tangisin,” lanjut Sakha menatapku dalam. Jujur, aku sangat merindukan Sakha. Saat ini aku seperti sedang mengulang moment bersamanya dulu, namun dulu aku menangis karna sebuah mainan, bukan seorang laki-laki..
“Iya, gue mau move on Kha. Gue mau lupain Farrel,” ujarku mantap. Sakha tersenyum.
“Bagus! Kalo lo mau, gue bisa bantuin lo move on kok..”
“Maksud lo─”
“Eh jangan salah paham, maksud gue, lo bisa ngelakuin banyak hal yang bisa buat lo lupa sama Farrel bareng gue gitu. Kebetulan, gue belum punya temen disini selain lo Qa,” jelas Sakha, aku menatapnya geli.
“Lo mau gak nemenin gue ke tempat-tempat bagus di Bandung?” lanjut Sakha bertanya.
“Hmm.. Oke gue mau,”
“So, tujuan pertama kita kemana?”
“Hari ini juga, Kha?!” pekikku.
“Nggaklah, sekarang udah sore. Besok aja gimana?” tawar Sakha. Aku mengangguk mantap.

*

Dua bulan berlalu, tak terasa, di mulai dari Sakha yang berniat membantuku untuk melupakan Farrel dengan mengajaknya jalan-jalan, akhirnya aku sudah melupakan Farrel. Kini Farrel juga sudah kembali seperti dulu lagi tanpa menggangguku lagi, aku dengan Farrelpun masih berteman.
Saat ini, aku sedang berada di The Green Forest Resort di daerah Cihideung, Bandung bersama Sakha.Pemandangan disini sangat indah, apalagi aku menikmati pemandangan itu bersama Sakha.

“Foto berdua sini Qa,” Sakha menarik tanganku agar lebih dekat dengannya, sedangkan tangan yang satunya terulur memegang tongkat gopro.
“Say chees!” seru Sakha. Kami berfoto dengan berbagai macam pose. Setelah puas, Sakha mengajak aku duduk di sebuah bangku panjang yang tersedia disana.

“Qa..” panggil Sakha, aku menoleh menatapnya.
“Ya Kha?” sahutku.
“Ada yang mau gue omongin,” Sakha lalu mengubah duduknya menghadapku.
“Tinggal ngomong Kha..” balasku, ikut duduk menghadap Sakha.
“Gue udah kenal sama lo dari kecil kan, dan waktu kita kecil juga banyak yang ngeledekin kita soal pacaran gitu. Sayangnya gue pas itu harus pindah dan akhirnya kita pisah. Sebenernya gue bener-bener gak nyangka bakal ketemu lagi sama lo, ya walaupun sama-sama satu daerah yaitu di Bandung, tapi Bandung luas, jadi sewaktu gue pindah lagi ke Bandung, gue gak berharap banget bisa ketemu sama lo lagi.” Sakha menghela nafas, aku masih setia mendengarkannya.
“Jujur gue seneng banget bisa ketemu lagi sama lo, bisa liat lo lagi. Tapi satu hal yang buat gue kecewa, yaitu pas gue tau kalau lo udah punya pacar. Gue kecewa, banget. Dan setelah denger lo putus dari pacar lo, gue gak mau nyia-nyiain kesempatan itu gitu aja kan. Oke, gue to the point. Gue sayang sama lo Qa, gue cinta sama lo. Lo mau.. jadi pacar gue?” ungkap Sakha. Aku mengangguk pelan.
“Gue juga rasa apa yang lo rasa, Kha..” balasku.

Dan inilah akhirnya, Tuhan telah mempersiapkan yang lebih indah dari sebelumnya.Dia, Sakha, sahabat kecilku. Aku harap, Sakha tidak seperti Farrel..

TAMAT

Yeay tamat. Oke ini absurd karna ide ngestuck dan alurnya ini kecepetan-_-

Dah ah Kha, lu gausah galaw lagi lu ke gua. Cerpen permintaan lu kelar. Oke. Bhay!

Sabtu, 26 Desember 2015

Baketball-o-logy

Dedicated for : Annisa Agustiani Putri

Aku menatap ring basket di hadapanku. Mencoba mencari jarak yang pas untuk men-shoot bola berwarna orange yang sedang aku dribble ini, bola basket.
                          
Duk duk duk..
HAPP!
 
Tiba-tiba, ada seseorang yang merebut bola basket yang tengah aku dribble tadi.
“Main bareng?” ujar –si perebut- bola basket itu. Aku hanya menatapnya kesal, lalu menghela nafas sebentar.

“Gue Alkio Briliantara, panggil aja Kio,” si perebut bola itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan denganku. Kali ini, aku menatapnya innocent.

“Keira Farensa, Kei aja,” akhirnya, aku menjabat tangannya lalu menyebutkan namaku. Dia tersenyum lebar, bagaikan seorang  joker. Lalu, dia mulai mendribble bola basketku lagi. Pftt, cowok ini, sangat menyebalkan.. “Bola basket gue, Kiooo..” aku mengejar dia, lalu merebut bolaku.

“Kayaknya gue baru liat lo main basket disini deh,” Kio menatapku yang tengah mencoba men-shoot bola itu. Shit, gagal masuk ring. Kio membuyarkan konsentrasiku.

“Gue murid baru disini..”  Aku menatapnya serius kali ini, dia memungut bolaku yang berada di bawah ring itu.

“Oh pantes, kelas berapa?”  Kio kembali mendribble bolaku, lalu dengan mudahnya menshoot bola itu ke arah ring. Masuk! Bola itu masuk tepat sasaran hanya dengan satu tangan Kio.

“10-1,” jawabku buru-buru mengalihkan pandanganku bukan ke arah ring tadi.

"Adek kelas toh, baru masuk kapan?”

“Lo kelas berapa emang? Baru hari ini, gue males di rumah. Makanya gue main basket dulu,” Balasku sekenanya. Aku berjalan ke pinggir lapangan karna cuaca hari ini cukup terik.

“Gue kelas 12. Lo mau ikut ekskul basket disini nggak?” Dia mengikuti langkahku, mataku berbinar mendengar tawaran darinya.

“Eh, sorry gak manggil ‘kak’ tadi. Serius gue boleh ikut nih?” Kio menatapku lucu.

“Yaelah gapapa, santai aja Kei. Ya bolehlah, ekskul kan bebas Kei. Murid sini pasti boleh ikutlah..” Aku tersenyum sumringah.

“Gue mau ikut kak! Daftar ke siapa nih?” Kio tersenyum. Ah dia tampan sebenarnya, hanya saja awal perkenalanku dengannya tadi menyebalkan.

“Yaudah besok pulang sekolah, lo ikut kita latihan disini ya,” ujarnya sambil memberikan bola basket itu kepadaku. Aku mengangguk senang. Basket favoritku, sejak lama.

“Gue duluan ya Kei, besok jangan lupa.” Kio berlalu meninggalkanku sendiri, masih mematung sambil memegang bola basketku. “Thanks kak!” ujarku setengah berteriak karna Kio sudah mulai menjauh, ia hanya membalikkan badan lalu mengangkat jempolnya sambil tersenyum.

“Meleleh gue liat senyumnya..” gumamku pelan.
 
*
 
Aku mengedarkan pandanganku ke lapangan basket yang cukup luas ini, mataku menangkap Kio sedang menaruh tasnya di pinggir lapangan, ia sudah memakai kaus berwarna merah. Aku berjalan menghampirinya.

“Kak? Inget gue kan?” tanyaku ketika sampai di hadapannya.

“Ingetlah dek, ayo kita pemanasan dulu sama yang lain. Sekalian gue kenalin sama semua yang disini,” aku mengangguk lalu menaruh tasku di sebelah tasnya dan mengikuti Kio.
 
Kio mendekat kearah gerombolan anak basket disini.

“Guys, perhatian,” semua yang disana menatap Kio.

“Kita kedatangan anak baru nih. Kei, kenalin diri lo..” titah Kio menatapku dan mengangguk pelan.

“Halo, gue Keira Farisa, panggil aja Kei. Gue dari kelas 10-1, murid baru juga di sekolah ini. Salam kenal semua..” ujarku ramah dengan senyum. Semua ikut tersenyum.

“Salam kenal Kei. Gue Putra, ketua team basket disini. Selamat bergabung, semoga lo betah,” Putra –ketua team basket- disini tersenyum menanggapiku.

“Aamiin, ajarin gue yaa kak. Gue masih butuh banyak ilmu disini hehe,” aku tertawa kecil.

“Iyaa Kei, disini sama-sama belajar kok..” Kio kini yang menyahut. Aku tersenyum kecil.

“Nah bener tuh kata Kio. Oh ya, lo belum dapet junior yang mau di bimbing kan Ki?” kata Putra melirik Kio, Kio mengangguk.

“Gue bimbing Kei aja yaa, San..” pinta Kio, Putra hanya berdehem lalu menepuk bahuku.

“Awas, hati-hati sama Kio yaa dek..” Putra berbisik lalu tertawa, Kio memelototi Putra yang berlari menjauhi mereka.

“Gue gak bakal gigit lo kok, Kei,” Kio berujar pelan, matanya menatap mataku serius.

“Palingan di cium sama Kio!” seru anak lain yang disamping Kio.

“Sialan lu!”

“Udah yuk pemanasan..” Putra berseru agar semua berkumpul.
 
Selesai pemanasan, aku diajak Kio mendribbling basket, Kio hanya memperhatikan bagaimana aku mendribbling, lalu ia membenarkan bila aku salah. Begitu seterusnya sampai berganti materi lain, dari mulai mengoper bola, offence, diffence, hands up, lay up, men-shoot dari jauh, dan lain-lain hingga tak terasa hari sudah sore, latihan hari ini pun cukup sampai disini.

“Pulang sama siapa Kei?” tanya Kio saat kita sampai di parkiran. Aku menggeleng lemas. “Nggak tau, kak. Handphone gue lowbat, mau nelpon nyokap padahal..”

“Mau pake handphone gue? Nih pake aja,” Kio menyodorkan benda persegi panjang berwarna hitam itu kearahku. Aku menatapnya terlebih dahulu.

“Nggakpapa nih kak?” Kio menggeleng cepat lalu tersenyum. Aku menerima handphone Kio lalu mulai mengetik beberapa nomor yang aku hafal.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi..” Berulang kali aku menelpon, jawabannya sama. Aku menggeleng frustasi lalu menyerahkan kembali handphone itu kepada pemiliknya.

“Kenapa?” Tanya Kio agak cemas karna melihat raut wajahku.

“Nomor nyokap gue gak aktif,”

“Rumah lo dimana emang? Gue anter aja yaa?” tawar Kio, aku menggeleng, merasa tak enak.

“Gak usah kak, gue naik angkot aja,” tolakku halus, kali ini Kio yang menggeleng cepat.

“Gak Kei, ini udah maghrib dan jarang ada angkot yang lewat sini kalau udah jam segini. Lo gue anter pulang pokoknya..” Kio menarik tanganku sampai motornya, ia menaiki motornya lalu menyuruhku ikut naik, mau tidak mau aku menaiki motor Kio..
 
*
Sudah hampir sebulan ini, aku dekat dengan Kio. Entah apa yang kurasa, aku selalu nyaman bila dekat dengannya. Namun, aku harus ingat, bahwa aku masih mempunyai Gabriel –kekasih yang berbeda kota- denganku. Aku juga menyayanginya. Tapi.. Ah aku.. Aku mencintai Kio, sepertinya. Perlakuan Kio kepadaku, yang membuatku jatuh hati padanya. Aku benar-benar di perlakukan seperti seorang kekasih olehnya. Entahlah, aku tak tau bagaimana perasaan Kio padaku.
Lalu, banyak murid disini yang menyangka kita berpacaran. Padahal, kenyataannya tidak. Mungkin karna mereka selalu melihat kami berdua seperti sepasang kekasih. AH KIO! Kau membuatku benar-benar jatuh cinta..
 
“Siang Kei,” aku terperanjak kaget mendengar suara Kio yang tiba-tiba ada di sebelahku.

“Eh ngagetin aja sih kak,” aku mengerucutkan bibirku. Kio menarik bibirku pelan.

“AH SAKIT TAU!” aku menjerit lalu melepas tangan Kio yang berada tepat di hidungku yang mancung ini. Jahil. Dia sangat jahil memang.

“AHAHAHA..” Tawa Kio menggelegar bagaikan petir, sialan. “Hidung lo Kei, merah persis badut. Ahahaha,”

“AWW!” Kio menjerit kesakitan kini, ia memegang pinggangnya yang ku cubit. Pasti merah, bahkan biru nanti. Ah tapi siapa perduli? Dia yang memulai.

“Udah impas yaa kak,” aku nyengir lalu tertawa garing. Dia masih meringis.

“Yaudah yuk, lunch sama gue Kei..” Kio merangkul bahuku, menuju motornya.

“Mau kemana ih?” tanyaku agak melepas rangkulannya, banyak pasang mata menatap kami seperti tatapan –iri-

“Ke kafe biasa, gue kangen berduaan sama lo..” balasnya asal, aku mengerucutkan bibirku lagi. Gombal lagi dia.

“Gak usah gitu bibirnya, di cium gue mau emang?” kata Kio memandangku tengil. Aku menatap dia kesal lalu berjalan mendahului dia yang sudah menaiki motor kesayangannya.

“Yah ngambek deh, naik ayo Keira..” bujuk Kio menarik tanganku untuk naik ke atas motornya. Kapan sih lo gak narik-narik tangan gue, Ki? Hobi banget, ish..
Aku pun menaiki motor Kio, wajahku masih menampakkan bahwa aku sedang kesal.

“Gak usah di tekuk mukanya Kei, sorry deh. Gue kan  bercanda..” Kio menatapku lewat spionnya mungkin. Aku malas menanggapi, hanya berdehem menyahutinya.

Setelah beberapa saat di perjalanan yang kaku –karna kami tidak berbicara lagi setelah itu- tadi, akhirnya kami sampai di kafe favorit kami. Setelah duduk di tempat yang agak sedikit memojok, aku dan Kio memesan minuman saja.

“Gimana sama basketnya Kei? Udah sebulan ini, ada kemajuan gak?” Tanya Kio sambil menatapku yang tengah memainkan handphoneku, membalas chat dari Zora yang menanyakan dimana aku.

“Banyak perubahan Ki, gue seneng ikut eskul itu,” jawabku tersenyum. “Gue juga seneng bisa ngebimbing lo, bisa liatin muak polos lo terus..” ujar Kio menatapku dalam. Astagaa. Aku tak mengerti arti tatapannya.

Tiba-tiba, suara dering handphone Kio berbunyi. Kio berhenti menatapku, ia melihat handphonenya.

“Sebentar yaa Kei,” ujarnya lalu menjauhiku dan mengangkat telponnya. Tak lama, Kio kembali dengan wajah khawatir.

“Kenapa Ki?” aku memandangnya cemas, dia mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.

“Kei, ayo gue anterin lo pulang. Pacar gue, pacar gue kecelakaan..” kata Kio lalu menarik tanganku.

Apa? Pacar? Sejak kapan Kio mempunyai pacar? Air mataku mendesak keluar saat ini juga, ah tak boleh! Aku tak boleh menangis..
 
*
Hari ini latihan basket, tetapi aku belum melihat batang hidung Kio sedari tadi. Kemana dia? Apa dia gak masuk, karna pacarnya kecelakaan? Hah~
Latihan di mulai, aku melihat  Putra tengah beristirahat. Lalu aku berjalan mendekatinya.

“Ehm maaf kak, gue mau nanya. Kak Kio kemana yaa? Kok gue gak liat dia dari tadi,” Putra menatapku.

“Oh iya gue lupa kasih tau lo, Kio hari ini lagi izin. Dia nemenin pacarnya di luar kota yang abis kecelakaan..” ujar Putra santai.

“Pacar kak?” beoku.

“Iyaa pacar. Ah lo belum tau yaa, Kio punya pacar tapi beda daerah sama kita. Ya Long Distance Relationship gitu Kei,”

“Oh gitu, yaudah makasih kak. Gue latihan sendiri kalo gitu..” Aku berbalik menjauhi Putra, air mataku menetes, kini tak dapat aku bendung lagi.
 
*
 
“Keira!” Panggil seseorang, aku hafal suara ini. Ini suara Kio. Jujur, aku merindukannya. Aku merindukan tatapannya, merindukan gombalan basinya, merindukan perhatiannya.

“Kenapa kak?” tanyaku, agak dingin. Aku menatap penampilannya, terlihat acak-acakan.

“Sorry ya gue gak ada kabar selama satu minggu ini, gue nemenin pacar gue yang abis sakit di luar kota.” Terlihat raut penyesalan dalam wajahnya, ah tapi siapa perduli? Aku tak boleh mengaharapkan sesuatu yang sudah jadi milik orang lain. Lagipula, aku juga masih memiliki Gabriel, bukan?

“Nggakpapa kak, lagian kita siapa emang? Hahaha..” tanyaku sarkas, Kio ikut tertawa.

“Lo? Lo partner basket gue, Kei.Lo temen, lo sahabat gue. Hahaha,”

INI SAKIT, KI. SAKIT!

Hatiku menjerit sakit. Tapi, mau bagaimana lagi?  Mungkin, kedekatan kita kemarin atau bahkan seterusnya hanya sebatas  friendzone.
 
Mencintaimu, sama halnya seperti aku  mendribble bola basket ke bumi.
Berkali-kali memantul, menyakitkan mungkin bila aku menjadi –si bola basket-
Aku menyayanginya, namun sangat teramat sakit
Mencintaimu, sama halnya seperti aku menshooting bola basket ke dalam ringnya
Walau bola itu akan masuk ke dalam ring, tapi sia-sia karna ring basket bolong, bukan?
Bila tidak masuk ke dalam ring, akan lebih sakit lagi
Dan sepertinya, dia sudah memasukkan hatiku ke dalam ring basket
Aku mencintainya
Namun sia-sia
 
END


Kamis, 19 Februari 2015

Rindu

Jauh disini, aku hanya bungkam dalam tatapan kosongku
Tatapan yang tak bisa di artikan
Mungkinkah aku rindu?
Rindu?
Rindu akan sosoknya?
Atau...
Perlakuannya padaku?
Entahlah
Mungkin, aku memang rindu keduanya
Rindu sosoknya yang membuatku merasa tak sendiri
Rindu sosoknya yang mampu membuatku nyaman
Nyaman karna perlakuannya padaku
Nyaman dalam candaannya untukku
Ya. Aku merindukannya
Dia, yang membuatku bungkam dengan tatapan kosongku ini..

Kamis, 29 Januari 2015

LDR : Aku, Kamu, dan Jarak

Aku disini, kamu disana
Berbeda kota
Berpisah ratusan kilometer
Berpisah begitu jauh
Namun aku percayakan hatiku padamu
Padamu yang jauh disana
Walau jauh, aku selalu merasa hadirmu disisiku
Walau hanya melalui tulisan-tulisan manis
Ataupun sapa lembutmu di telpon
Tapi aku selalu nyaman dengan itu
Selalu terbayang jika saja senyum manismu dapat ku lihat secara langsung
Selalu terbayang jika saja perlakuan manismu dapat ku rasakan langsung
Aku terbayang ketika kita berjalan berdua
Menikmati indahnya dunia bersama
Menapakan kaki berdampingan
Kita bercanda tawa berdua
Lalu kamu memelukku, membisikkan kata-kata manis di telingaku
Dan mungkin saat itu, dunia serasa milik berdua
Hanya milikku dan kamu
Aku tidak iri, saat ada sepasang kekasih bermesraan di hadapanku
Karna aku yakin, suatu hari nanti aku dapat merasakan seperti itu denganmu
Dan kalau memang aku denganmu berjodoh, kita pasti akan dipertemukan
Entah itu kapan dan dimana
Selagi itu sudah menjadi kehendak Tuhan
Aku, Kamu, dan Jarak
Yaa. Jarak~

Selasa, 20 Januari 2015

Pena Kecil Darinya

Dia bagai racun
Dia seolah meracuniku
Dengan kata-kata yang ia tulis dan ia tujukan untukku
Di atas kertas usang dengan berteman pena yang dia berikan untukku
Akan ku ceritakan dia
Sosoknya yang mampu meracuniku..

Dia..
Dia yang bisa membuat diriku nyaman
Dia yang bisa membuat diriku terhanyut dalam kesendirian
Dia yang membuat diriku menghabiskan lembaran kertas usang dan pena kecil ini untuk menuliskan semua tentangnya
Iya! Semua tentangnya hampir memenuhi lembaran kertas usang yang entah sejak kapan mulai aku tuliskan lagi setelah lembaran-lembaran sebelumnya aku sobek dan ku buang entah kemana beberapa bagiannya
Namun dia datang, dan memberikanku pena kecil seolah menitahku untuk menulis kembali diatas lembaran kertas-kertas usang milikku ini
Satu pertanyaan dalam benakku
Racun apa yang ia miliki?
Hingga bisa meracuniku begitu kuat
Hingga ia mampu menyembuhkan luka yang seseorang torehkan di masa lalu
Hingga ia mampu membuatku mabuk kepayang karna perlakuannya
Hingga ia mampu membuat lidahku kelu saat ia mengatakan rasa itu
Hingga ia mampu membuatku begitu melayang saat pujiannya terdengar untukku
Hingga ia...
Ah..
Tak terasa, barisan kertas lembar terakhir ini hampir habis
Aku begitu semangat menceritakan tentangnya ditemani dengan pena kecil darinya
Aku rasa, aku harus membeli lembaran kertas lagi
Untuk menuliskan semua tentangnya
Dan aku rasa, bukan hanya tentangnya
Namun tentang kami, tentang kisah kami
Yang akan setia ku tulis dalam bukuku
Di temani pena kecil darinya
Yang aku harap jika habis akan kau berikan lagi untukku
Bukan untuk siapapun..